|
BEGITU populernya
lensa vario (zoom lens) di kalangan pemotret, sehingga rasanya tak ada
yang tak memilikinya.
Selain
karena sering digunakan, lensa vario terasa praktis dibawa, fisiknya
cukup ringkas, dan mutu gambar yang dihasilkannya pun baik. Bahkan
kini banyak kamera digital yang sudah dilengkapi lensa vario bawaan (tidak
bisa dilepas-tukar). Padahal, dulu, hasil pemotretan dengan lensa
vario sempat diragukan kualitasnya.
Saat ini mutu lensa vario bisa dikatakan tidak kalah dengan kualitas
lensa tetap (fixed lens). Namun, secara teknis, ada kekurangan yang
dimiliki lensa vario yaitu, kuat (bukaan) lensanya masih kecil. Sejauh
ini, bukaan terbesar sebuah lensa vario adalah f/2,8 dan tidak sedikit
umumnya f/3,5 sampai f/5,6. |
 |
|
Kendati
kini pada kamera digital ada juga yang memiliki bukaan lensa varionya
dari f/2,0 seperti pada Canon Powershot G5 dengan lensa vario 7,2-28,8mm
(f/2,0-3,0)
atau yang terbaru dari Leica, Digilux 2 dengan f/2,0
-
f/2,4
(7-22,5
mm). |
|
Bandingkan dengan kuat sebuah lensa tetap. Lensa 50mm misalnya,
rata-rata mempunyai bukaan terbesar f/1,4.
Bahkan dulu Canon
sempat membuat lensa 50mm f/0,95 untuk kamera Canon 7S.
Belakangnan Carl Zeiss, produsen lensa terkenal di Jerman, membuat
lensa Planar 50mm berkekuatan f/0,7 untuk kamera Contax/Yashica (Fotomedia
No 5/I, 1990).
Ini merupakan
lensa terkuat dalam bidang fotografi (film), sampai saat ini. |
|
Bagi yang belum
tahu, kuat lensa (lens speed) jelas tertulis pada setiap lensa dengan
kode 1:xx. Contoh, jika pada lensa 50mm tertulis 1:1.4, artinya
panjang fokal lensa (F=) 50mm dan kuat lensa sekaligus juga bukaan
terbesarnya f/1,4.
Lensa
vario 70-210mm 1:4-5,6 berarti kuat lensa pada F=70mm adalah f/4,
sedangkan di posisi 210mm kuat lensa bergeser menjadi f/5,6. |
 |
Lensa
berkekuatan besar biasanya sering digunakan para profesional dan
fotojurnalis. Terutama bagi fotografer olahraga dan satwa, lensa tele
dengan bukaan besar merupakan suatu keharusan. Bayangkan bila
dikombinasikan dengan kamera SLR digital yang memiliki kemampuan
menambah panjang fokal lensa sekitar 50 persen, terasa benar
manfaatnya.
Manfaat lain yang bisa diperoleh misalnya, ketika kita memotret suatu
objek/subjek tampil dengan pencahayaan alami (natural) dalam kondisi
cahaya lemah. Selain menghindarkan hasil pemotretan yang tidak
diinginkan (tidak jelas, kabur, goyang), gerak pemotret menjadi lebih
bebas karena tidak menggunakan penyangga kamera dan lampu kilat.
Apalagi kalau dipadukan dengan film ber-ISO tinggi (yang mudah
dilakukan pada kamera digital). |
|
Ada
manfaat signifikan yang mungkin tidak dirasakan ketika menggunakan
lensa berbukaan besar yaitu, saat memfokus sasaran pemotretan menjadi
lebih mudah dan cepat (dengan fokus manual). Ini sangat terasa saat
menggunakannya dalam suasana minim cahaya. Cobalah sekali waktu Anda
memfokus suatu objek dengan panjang fokal lensa yang sama, tetapi
berbeda kuatnya, misalnya dengan lensa 35mm f/1,4 lalu diganti 35mm
f/2,8. |
|
Memang,
umumnya, hasil pemotretan dengan lensa berkekuatan besar lebih baik
dari lensa berkekuatan kecil, misalnya beberapa lensa dengan daya
rentang 80-200mm dan bukaan f/2,8 dibandingkan dengan yang kekuatannya
f/4 atau lebih kecil. Tapi ini tidak selalu. Ambil contoh, lensa
Nikkor AF 50mm f/1,8 ternyata
-
menurut
beberapa majalah foto mancanegara dan situs fotografi
-
hasilnya lebih baik dibandingkan lensa setipe tapi dengan kekuatan
f/1,4. Oleh karena itu, yang lebih penting adalah, jangan berharap
banyak bila foto yang dibuat secara teknis sangat baik tetapi tidak
istimewa ide dan presentasinya. |
|
Harus
diingat pula, harga lensa-lensa berkekuatan besar relatif mahal dan
semakin terus meningkat. Dan ini biasanya menjadi pertimbangan (sangat)
besar bagi yang ingin memilikinya. Namun kalau kocek Anda memungkinkan,
kenapa tidak mendapatkannya, bukan? |
|
Mengherankan |
|
Sesungguhnya, apapun tipe lensa yang digunakan bisa menghasilkan foto
yang baik, sepanjang penggunaannya tepat guna dan yang lebih
menentukan adalah pemotret itu sendiri. Ingat ungkapan populer the man
behind the camera? Mengenal dan mengoptimalkan kemampuan peralatan
fotografi yang kita miliki jauh lebih penting daripada selalu memburu
peralatan yang lebih canggih dan relatif mahal.
Meski mutu lensa mempengaruhi kualitas foto yang dihasilkan, namun
harus diingat, untuk lensa yang diproduksi dekade ini, perbedaan hasil
pemotretan antara lensa yang canggih
dan tidak hanya terlihat secara signifikan jika diuji dengan teliti di
laboratorium. Secara kasat mata jelas sukar membedakannya, selama
kondisi lensa terlihat jernih (tidak berjamur, tergores, dan
sejenisnya). |
 |
|
Malah
pada kamera digital, keefektifan sensor berupa CCD atau CMOS yang
menangkap elemen-elemen gambar (pixel) yang lebih berperan. Semakin
tinggi resolusinya, biasanya semakin baik citra foto yang dibentuk. |
 |
Hal
lain yang sering terjadi dan cukup mengherankan ialah, ada kebiasaan
di antara kita untuk tidak atau hampir tidak pernah menggunakan bukaan
diafragma penuh (fully open) sewaktu memotret, kendati dalam kondisi
dan situasi yang memungkinkan. Seolah-olah timbul kekhawatiran ada
kesan
takut gagal
ketika memotret dengan bukaan terbesar lensa yang digunakan.
Jadi, bila Anda mempunyai lensa berkekuatan besar, jangan ragu
menggunakan bukaan terbesarnya pada saat memotret kalau kondisi memang
menghendaki demikian. Terutama jika Anda menggunakan lensa tele atau
tele zoom, seringkali untuk mengkompensasi berat lensa harus diimbangi
dengan kecepatan (cukup) tinggi, yang biasanya diperoleh dengan
menempatkan diafragma pada angka terkecil (bukaan terbesarnya).
Sebagai contoh, kalau Anda menggunakan lensa vario 80-200m f/2,8 maka
atur diafragma pada f/2,8. |
|
Harus
disadari, untuk apa Anda membeli lensa Canon 24mm f/1,4 atau Nikkor
300mm f/2,8 misalnya, kalau Anda tidak pernah menggunakan bukaan
terbesarnya? Kenapa tidak membeli lensa 24mm f/2,8 atau 300m f/4 yang
harganya mungkin tidak sampai sepertiganya? Padahal salah satu faktor
yang menentukan tinggi-rendahnya harga sebuah lensa adalah dari bukaan
terbesarnya atau kekuatan lensa itu. |
|
|